Blog

Berburu Beras Pandan Wangi

Kamis tanggal 24 November 2016 saya berkesempatan mengikuti seminar pertanian terintegrasi di Aula Barat ITB. Sedianya memang akan dihadiri oleh Mentan namun meskipun beliau absen saya beruntung bisa bertemu dengan banyak anak-anak muda yang peduli memperbaiki alam. Sebut saja Mentari, Vanya, Dr Rama, Dr Angga, Muti, Mas Nurohman dan Dieta. Mereka menjadi jalan saya untuk bertemu dengan para guru alam lainnya di semesta Indonesia.

Saya sudah selama satu tahun kebelakang semangat belajar permakultur. Menuju ke istilah yang dibuat oleh Alm Bill Molison dan David Holmgren melalui banyak orang yang menginspirasi. Awalnya saya cukup canggung bertani dan tanam-menanam. Seperti halnya ilmu fisika atau matematika, pertanian saya kira memerlukan perhitungan yang tepat. Berapa takaran pupuk, jarak tanam, jumlah  pestisida yang perlu dipakai dan sebagainya. Saya lupa dengan hubungan bumi manusia yang hidup penuh kehidupan. Dia perlu didekati dengan ilmu hayati bukan sekedar matematika.

Walhasil saya sekeluarga, ponek (red – kakek), dan Kak Agus melakukan perjalanan satu harian dengan rute Cimande – Agatho Farm di Cisarua – Warungkondang Cianjur. Rutenya masih kasar dan belum tahu siapa yang bisa ditemui.

Setelah menemui Mas Dian di Agatho.   Terbilanglah tentang PT Gasol dan perjuangan Ibu Ika mencari delapan varietas lokal di Cianjur. Rute pun akhirnya berubah menjadi Desa Gasol terlebih dahulu.

Pertemuan dengan Ibu Ika dan Pak Rohman  (pengelola) membawa cerita baru tentang beras. Lokasi Cimande sampai Warungkondang keseluruhan lokasinya berada di kaki Gunung Gede. Mengitari dari Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kota Cianjur sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Ada enam jenis pada lokal yaitu Merah Wangi, Hawara Batu, Peteuy, Omyok, Rogol Kuning dan Pandan Wangi. Padi lokal memiliki usia tanam yang panjang sekitar enam bulan dari tebar benih sampai panen.

Saya tertegun ketika Pak Rohman bercerita, saat ini konsumsi beras masyarakat banyak yang berasal dari varietas unggul, yang masa tanamnya pendek. “Orang dulu makan padi lokal yang berusia panjang dan panjang umur, makan hanya dua kali sehari dan jarang sakit. Orang sekarang makan padi unggul berusia pendek, makan tiga kali sehari dan sering sakit,” kisah beliau.

Syakh Hamza pernah berkata, “we dont see quantity but quality, muslim dont quantify but qualify.” Apa selama ini kita makan hanya karena jumlah nya yang banyak dan murah. You are what you eat bukan. Makan sekarang jadi banyak dan tidak sadar akan kenikmatan tersebut. Padi lokal panen hanya dua kali setahun dan produksi hanya mencapai 6 ton per hektar. Tanamannya tinggi dan malai yang  panjang. Sehingga saat produksi memerlukan penanganan khusus.

Penuturan Pak Rohman, memanen padi lokal bisa sampai tiga kali. Pertama yang disebut dengan Ngalea atau sekitar 10% dari hasil untuk cadangan benih menanam kedepan. Kemudian panen sekepelan sekitar 80% dari hasil dan terakhir petani datang lagi keladang untuk mengambil panen heucak atau ngimeut sekitar 10%.

Ibu Ika dan dan Pak Rohman masih terus berbenah dan mencari jawaban dari hakikat padi organik. “Kenapa harus menanam padi lokal organik?” secara lugas Ibu Ika melemparkan pertanyaan kepada saya. Menam padi lokal secara organik itu susah, repot, waktu tanamnya panjang, penanganan hamanya sulit, panen dan pasca panennya juga tidak mudah. Selama menanam Pak Rohman selalu menghitung mundur dari kebiasaan bulan panen di Desa Gasol. Sehingga jadwal buruh tani tidak terganggu dengan sebagian besar masyarakat lain yang masih menanam padi unggulan.

Pasca panen yang paling menantang dari cerita yang disampaikan. Petani padi lokal memerlukan alat yang disebut ani-ani untuk memanen, kemudian membawanya ke mesin perontok,  penjemuran dan penggilingan padi. Proses pengeringan sendiri dilakukan sampai mendapatkan kelembaban 11%. Sehingga masa penyimpanan bisa lama. Lebih jauh, harga jual beras yang tidak terlalu tinggi. Pada tingkat petani seringkali penampung tidak membedakan nilai jual dengan padi lainnya. PT Gasol menjual dengan range  Rp 40.000/Kg, sedangkan harga idealnya berada pada kisaran Rp 80.000/Kg. Lalu kenapa masih mau repot menanam padi lokal secara organik?

Perjalanan saya lanjutkan menuju Desa Buni Asih, Kecamatan Warungkondang ke kelompok tani Citra Sawargi. Rekomendasi dari Ibu Ika. Alhamdulillah dengan google map dan mesin pencarian safari. Saya bisa menemukan  nomor telepon pendiri kelompok – H Pepen, dengan mudah.

Haji Pepen dan kakak kandungnya, Haji Mansyur memiliki 1,2 Ha lahan padi. Sawah tersebut sudah sejak lama digarap dengan cara organik dan menggunakan varietas padi lokal. Hasil panen memang tidak banyak, sekitar 6 ton/ha. Hasil itupun masih menyusut 20% karena pecah dari mesin perontok dan penggilingan. Rata-rata diperlukan 5000 Kg pupuk kandang per hektar dan pupuk cair setelah 2,5 bulan masa tanam. Jarak tanam yang dipakai 30 cm x 30 cm per dua batang benih. Hasil yang diharapkan menjadi 38 batang pada akhir musim. “Hasil padi organik lebih bening,” ujar H. Pepen di sela-sela tempat penggilingan padi sambil menunjukan peralatan yang dipakai kelompok.

Lalu kenapa Pak Haji menanam? setelah panjang lebar beliau mengungkapkan kebanggaannya yang bisa mempertahankan tradisi menanam padi lokal di lima kecamatan; Warung Kondang, Cugenang, Cibeber, Gekbrong, dan Kota Cianjur. “Kalau bukan saya lalu siapa lagi?” kata lelaki tua tersebut.

Kamis, 1 Desember 2016

Tim YurSayur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *